Oleh Yahoo! News | Yahoo! News – Sen, 23 Jul 2012
Oleh Marmi Hidayah untuk Yahoo! Indonesia
Jam
menunjukkan pukul empat sore, ketika seorang pria muda berjalan dengan
wajah berseri-seri menembus antrian mobil dan motor yang berebut parkir
di salah satu sudut jalan pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat.
Tangannya menenteng kantong penuh dengan aneka takjil untuk berbuka
puasa.
“Beli takjil untuk berbuka, Mbak. Meski rumah agak jauh,
tapi belum afdol bila saat puasa tak belanja ke sini, karena sudah
tradisi. Lumayan untuk menambah semangat saat berbuka,” tutur Kuntoro
yang menemani ibunya berbelanja takjil. “Saya hanya belanja 20 ribuan
kok,” lanjutnya senang sambil memamerkan belanjaannya. Dengan uang
sebesar itu, dia bisa membawa pulang beberapa buah pastel, dadar gulung,
dan es cincau. Cukup untuk semua anggota keluarga.
Para penjual takjil di Pasar Benhil menjajakan makanannya. (TEMPO/Aditia Noviansyah)
Terletak
di sisi Jalan Sudirman, setiap Ramadan tiba Pasar Benhil bak pasar
kaget takjil yang menjual aneka kue dan minuman dengan harga yang
relatif murah. Dari pastel, kroket, lemper, dadar gulung, tahu goreng,
siomay, otak-otak, hingga tempe mendoan khas Banyumas. Ada pula makanan
khas Banjarmasin yaitu kue jongkong kelapa muda, rujak, asinan serta
aneka masakan seperti rujak cingur, gudeg, tahu tempe bacem, ikan bakar
khas Makassar, masakan Padang, dan masih banyak lagi. “Saya
nggak
puasa, karena non-muslim. Tapi saya senang ke sini untuk membeli
jajanan,” aku Veronica, yang datang bersama teman-teman kantornya.
Hampir
semua kios tak pernah sepi dari pembeli. Maklum, lokasinya yang berada
di antara gedung perkantoran kawasan Sudirman-Thamrin, membuat pasar ini
ideal bagi para pegawai kantor untuk mampir dan berbelanja makanan buka
puasa. Mereka berbaur dengan pembeli dari berbagai penjuru Jakarta yang
tumpah di sini.
Lalu berapa kira-kira omset para pedagang? Deni,
penjual kudapan khas Banjarmasin, sore itu wajahnya dihiasi senyum
simpul lantaran dagangannya laris-manis. “Kalau ditanya omset, hari
pertama belum bisa dihitung bersih,” akunya. Tapi sebagai gambaran,
sejak berjualan pukul 10.00 hingga 17.30 WIB, Deni berhasil menjual kue
jongkong kelapa muda sebanyak 250 buah. Kue yang dijual Rp 5.000 per
buah itu tersisa 15 alias sudah mengantungi uang Rp 1.175.000. Bila
rata2 terjual 225 buah setiap minggunya, maka omset Deni bisa mencapai
31 juta lebih di bulan Ramadan untuk kue jongkong saja. Sementara jualan
Deni terdiri dari banyak jenis kue. Tidak mustahil bila omset Deni bisa
melambung hingga ratusan juta rupiah di bulan suci ini. Bukan itu saja,
penjualan itu belum termasuk empal gepuk khas Bandung yang juga menjadi
andalan dagangannya.
Senada dengan Deni, pedagang ikan bakar
khas Makassar, mengaku belum bisa menghitung nilai penjualan dan
keuntungannya, tapi cukup optimis dengan hasilnya. “Ini baru hari
pertama jualan, tapi kita bawa ikan banyak
banget. Sekarang Ibu
lihat sendiri tinggal berapa biji,” katanya sambil membakar beberapa
ekor ikan gurame yang dijual Rp 40.000 per ekor dan kakap Rp 20.000 per
ekor. Padahal, di hari biasa penjualannya tak sebanyak ini. “Orang yang
belanja takjil, sekalian beli makanan untuk sahur dan buka, jadi yang
dibeli bukan kue dan minuman saja,” tambahnya lagi.
Ade, petugas
dari Forum Peduli Benhil (FPB) yang mengelola Pasar Takjil Benhil
mengungkapkan Takjil Pasar Benhil kali ini sudah merupakan yang ke-11
kali diselenggarakan. “Tujuan kita mengadakan pasar takjil ini awalnya
untuk menciptakan peluang bisnis bagi masyarakat sekitar yang ingin
menambah penghasilan di bulan Ramadan. Kami juga melibatkan organisasi
kemasyarakatan di sini, termasuk Karang Taruna,” tambahnya
Jumlah
pedagang saat ini mencapai sekitar 103 penyewa. Mereka bukan hanya
berasal dari kawasan Benhil, tapi datang dari berbagai wilayah seperti
Depok, Cipinang, Rawamangun, bahkan ada yang dari Bandung. Biasanya para
pedagang sudah memesan tempat sejak jauh-jauh hari untuk bisa berdagang
di situ. “Sekitar dua bulan sebelum puasa,” jelas Bang Ade. Pedagang
tertarik berjualan di sini karena Pasar Takjil Benhil ini sudah sangat
terkenal. Selain itu biayanya tidak terlalu mahal, yaitu sekitar Rp 2,5
juta untuk sebulan penuh. “Itu sudah kita kasih meja, tenda dan
listrik,” ungkapnya.
“Kalau dibanding tahun lalu, jumlah pedagang relatif stabil. Hampir sama karena kita
nggak bisa
menambah jumlah pedagang. Ruang untuk lapak terbatas hanya dari depan
Pasar Benhil hingga Pangkalan Bemo, itulah sebabnya izin Dinas
Perhubungan juga menjadi faktor di sini. ” jelas Bang Ade lagi.
Ini
menunjukkan bahwa, meskipun kini pedagang takjil dadakan menjamur di
mana-mana, tapi Takjil Pasar Benhil masih eksis sebagai tempat tujuan
kuliner Ramadan yang selalu dirindukan warga Jakarta. (Yahoo!/Vista)